Jeruk Nipis bukan musuh lambung
Jangan makanan asam di waktu pagi." Peraturan tidak tertulis tersebut tampaknya sudah menjadi semacam dogma bagi sebagian masyarakat". Karena itu sejak Food Combining diperkenalkan, sampai sekarang masih banyak orang yang terkaget-kaget mendengar anjuran Andang Gunawan, ahli terapi nutrisi, untuk mengkonsumsi air yang dibubuhi perasan jeruk nipis beberapa saat sebelum sarapan.... Menghindari makanan asam, terutama di waktu pagi, secara nalar memang bisa diterima. Cuka dapur yang biasa dicampurkan pada kuah pempek Palembang misalnya, jika dikonsumsi sewaktu perut kosong memang bisa mengiritasi lambung. Tapi rasa asam jeruk nipis (dan juga jeruk lemon), menurut Andang, ternyata tidak ada hubungannya dengan sifatnya. Setelah dicerna, asam yang terkandung dalam jeruk nipis dan jeruk lemon justru akan meninggalkan elemen-elemen pembentuk basa sehingga menetralkan pH tubuh. Hampir senada, menurut Dr. Amarullah H. Siregar, DIHom, DNMed, MSc, PhD, kandungan asam sitrat dalam jeruk nipis atau jeruk lemon justru mengikat asam lambung, sehingga keadaan lambung menjadi netral. Cukup masuk akal untuk dikonsumsi di pagi hari bukan? Lalu mengapa para ahli pengobatan tradisional menjulukinya sebagai "buah beribu manfaat"?.
Mengapa jeruk nipis menjadi begitu berharga tentu tidak lepas dari manfaatnya. Walaupun ukurannya kecil, jeruk nipis memiliki semua kandungan nutrisi yang dimiliki jeruk seperti vitamin C, senyawa limonin glukosit, limonin, dan hesperidin. Memiliki efek ekspektoran (mengencer lendir), antiseptik, antioksidan, antitoksik (mengeluar racun), diuretik (peluruh kencing), astringen (menciutkan), antiradang. Tapi melebihi jeruk manis, kandungan minyak atsiri jeruk nipis (limonin) jauh lebih tinggi. Limonin yang banyak terkandung pada kulit jeruk merupakan senyawa yang berfungsi mencegah perubabahan sel menjadi kanker, meningkatkan aktivitas protein penghambat estradiol (hormon yang berkaitan dengan terjadinya kanker payudara), serta memperbanyak enzim dalam liver yang bertugas membuang bahan kimia penyebab kanker. Selain kandungan limolinnya yang tinggi, kulit jeruk mengandung vitamin P, flavonoid, koumarin, triperten, vitamin C, karoten, dan pektin. Vitamin C dan karoten selain sebagai antioksidan juga berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh, zat aktif flavonoidnya juga berkhasiat antiradang, antibakteri (antara lain menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan E. coil), juga antijamur.
Jeruk nipis yang tergolong jenis jeruk asam (sour orange) ternyata mempunyai banyak kerabat yang hampir sama manfaatnya. Beberapa di antaranya sama-sama bisa dijadikan penyedap dan pengharum masakan tertentu, dan beberapa jenis mempunyai minyak esensial yang serupa khasiatnya. Seperti jeruk lemon (Citrus limon), walau rasanya lebih manis dan baunya lebih lembut, cara pemakaian jeruk lemon dan jeruk nipis biasanya hampir sama misalnya, jeruk lemon dan jeruk nipis sama-sama biasa dibubuhkan pada sajian teh hangat. Bahkan dalam masakan seringkali jeruk lemon dipakai menggantikan jeruk nipis sama - sama bersifat menenangkan lambung, mengencerkan kudisan. Sweet lime (Citrus Limetta), jeruk yang bentuknya mirip lemon yang berwarna kehijauan ini rasanya lebih manis dari jeruk nipis tapi memiliki keharuman yang berbeda. Para ahli memperkirakan jeruk ini merupakan bentuk mutasi dari jeruk lemon. Dengan demikian di dapur, reputasi jeruk nipis hampir mendekati garam. Tapi gengsinya di dunia pengobatan lebih menarik. Tidak saja di Tanah Air yang merupakan daerah asalnya, tapi juga di Tiongkok, Arab dan Amerika. Karena itulah sampai kini khasiat jeruk nipis terus diteliti.
(kutipan dari Majalah Nirmala)
Sabtu, 09 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar