Minggu, 10 Januari 2010

Seperti Apa Kepemimpinan Jendral COLIN POWELL


Menteri Luar Negeri Amerika, Jendral (Purn) Colin Powell, bilang kepemimpinan adalah seni mewujudkan sesuatu. Kata-kata ini menjadi berisi karena yang bicara adalah Colin Powell. Mantan Kepala Staff Gabungan pada krisis teluk 1990 dan salah seorang yang dianggap layak jadi Presiden negara adidaya.....
Dalam percakapan imajiner dengan penulis Jendral Powell menuturkan dengan gamblang resep leadership ala Powell. "Semuanya Saya rangkum dalam 18 pelajaran kepemimpinan" Katanya dengan bersemangat.

Sambil membetulkan posisi duduknya Powell mulai bicara. "Kepemimpinan itu berarti bertanggungjawab pada kesejahteraan kelompok. Anda akan terlibat banyak konflik dalam melaksanakan tanggung jawab ini. Karena tidak semua orang akan suka pada keputusan Anda. Tetapi betapapun berat beban yang Anda tanggung, keputusan harus diambil". Dalam hal ini Powell mirip dengan Peter Drucker. Drucker bilang pemimpin yang baik mungkin bukan orang yang disukai atau dicintai. Pemimpin yang baik adalah orang yang bisa jadi inspirator bagi orang lain untuk melakukan hal-hal besar.
"Itu yang pertama. Yang kedua, Pemimpin sejati adalah orang yang dipercaya (reliable) oleh pengikutnya. Anda tidak dapat menyebut diri sebagai pemimpin kalau tidak ada lagi pengikut yang mau datang kepada Anda untuk mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Tunjukanlah kepedulian dan perhatian kepada mereka yang datang. Bangun system komunikasi yang mendukung hal tersebut terjadi".
"Ketiga, selalu waspada dan mencari tahu apa yang terjadi saat ini. Bahkan jika diperlukan, jawablah telpon dan 'setirlah truck' sendiri. Singkatnya cobalah mengerti dengan mendalam tentang dunia Anda".

"Yang tak kalah penting adalah kembangkan setiap orang agar maju. Semakin banyak professional, semakin banyak hal dapat dipelajari. Sebab mereka bisa menjadi mentor dan partner Anda. Dan berhati-hatilah pada orang yang memiliki kepatuhan buta. Saya ingat Barry Rand dari Xerox yang tidak mau punya yes man lebih dari satu. Bahkan ada 1 orang yes man saja sudah berlebihan".
"Kelima, laksanakan!!" Wah militernya keluar, kata saya dalam hati. "Strategi itu sama pentingnya dengan pelaksanaan. Nggak ada gunanya punya banyak ide dan impian jika tidak diterapkan secara cepat dan efisien. Cobalah beri tanggung jawab dan wewenang kepada orang yang Anda anggap mampu. Dan jadilah devil advocate untuk setiap proses yang terjadi di tempat Anda. Menurut saya pemimpin bukanlah Chief Organizer namun Chief Disorganizer".

"Sudah lima ya?" Powell bertanya kepada saya. Saya mengangguk sambil menyeruput kopi yang disuguhkan. "Keenam, jangan takut untuk mencoba. Sebenarnya sih lebih mudah dapat maaf daripada dapat ijin. Tetapi pemimpin sejati tidak menunggu untuk melakukan sesuatu. Dia bijaksana dan tidak sembrono. Lagi pula kita tidak tahu apakah kita berhasil atau gagal sampai kita mencobanya".
"Ketujuh, terus cari dibawah permukaan. Jangan segan-segan untuk terus melakukannya. Sebab Anda mungkin tidak suka apa yang Anda temukan. Anda akan menemukan orang yang berpikiran jangan memperbaiki sesuatu yang belum rusak. Orang yang tidak proaktif. Kalau Anda menemukan banyak type orang macam itu di satu perusahaan, jangan berinvestasi disana".

"Kedelapan, tariklah (attract) orang-orang terbaik. Bersama mereka, Anda bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan hebat. Modal terbaik organisasi sebenarnya adalah orang. Pertanyaannya: berapa banyak organisasi yang mengelola modal terbaik ini dengan benar?".

Percakapan jadi semakin menarik. Tak terasa saya masuk ke pelajaran kesembilan dari salah seorang yang paling berpengaruh di Amerika, dan mungkin juga di dunia. "Sembilan, teruslah berusaha meningkatkan kompetensi, tetap semangat dan beri perhatian tulus kepada rekan kerja dan produk Anda. Sebab orang terikat bukan pada gelar atau jabatan. Orang terikat dan terpengaruh pada kapasitas yang dapat mempengaruhi dan memberi inspirasi".

"Sepuluh. Jangan takut untuk berubah. Anda lihat. Banyak perusahaan besar jatuh karena tidak mau mengganti apa yang telah usang dan lepas dari comfort zone-nya. Terutama pada hal-hal nyaman yang telah dikerjakan selama bertahun-tahun. Pemimpin efektif adalah orang yang dapat menciptakan keberhasilan lewat kerelaan mempelajari keterampilan dan tanggung jawab baru. Jadi kalau nanti saya bertemu Anda di lain kesempatan, Saya tidak akan bertanya seberapa baik Anda melaksanakan tugas Anda saat ini, tapi saya akan bertanya berapa banyak hal baru yang telah Anda kerjakan".
Saya menyeruput kopi saya lagi. Ehm sudah agak dingin. "More coffee?" "No thanks" Pelajaran kesebelas lebih menekankan pentingnya Pemimpin menghargai nilai-nilai inti mereka. Pemimpin, menurut Powell, sebaiknya fleksibel dalam menerapkan nilai-nilainya. Sebab teknik-teknik manajemen bukanlah mantera sihir yang tidak boleh diubah melainkan hanya alat untuk mencapai sesuatu pada waktu yang tepat.
"Duabelas. Tetap optimis! Saya percaya kita semua bisa meraih target-target yang mengagumkan. Saya percaya kita bisa mengubah sesuatu dari sini. Dan yang terpenting saya percaya kita semua bisa menjadi yang terbaik. Pemimpin yang baik adalah orang yang bisa menjaga dan menumbuhkan semangat-semangat itu".

"Yang ketigabelas ini berhubungan dengan pelajaran kedelapan. Saya menyarankan Anda untuk mencari orang yang cerdas, memiliki pertimbangan dan daya analisis, yang paling kritis, dan punya kapasitas untuk mengetahui lebih dahulu, serta bisa melihat ke belakang. Akan lebih baik lagi kalu dapat orang yang loyal, berintegritas, punya semangat tinggi, ego yang stabil, dan kemauan untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan proses rekrutmen adalah awal dari semua itu".

"Bagian keempatbelas ini kedengarannya agak kasar. KISS. Keep It Simple Stupid. Pemimpin yang baik bisa menjelaskan fenomena yang rumit dan kompleks dengan bahasa yang mudah dimengerti. Dan itu dijabarkan dalam visi yang singkat, padat dan jelas. Mereka harus dapat memberikan solusi dan inspirasi. Tingkah laku mereka juga konsisten, sejalan dengan gambaran masa depan yang dilukis saat ini".
"Berhubungan dengan pengambilan keputusan. Jangan mengambil keputusan berdasarkan 40% informasi. Tapi jangan tunda keputusan Anda hingga punya informasi lengkap (100%). Sebab saat semuanya lengkap mungkin sudah terlambat. Yang perlu diingat, menunda sesuatu untuk mengurangi resiko bisa jadi malah akan meningkatkan resiko".
"Komandan di lapangan selalu benar. Kecuali Anda bisa membuktikan dia salah. Itulah saya pikir mengapa Percy Barnevik di Asea Brown Boveri (ABB), mengupayakan staff Head Office dalam jumlah efisien".

"Sekarang tujuhbelas, right?" Saya mengangguk. "Ini yang perlu dicatat. Hiduplah secara seimbang". Wah seperti orang Jawa pikir saya. "Seimbangkanlah semua. Bersukacitalah dalam bekerja. Ambilah cuti jika sudah waktunya. Dan luangkan waktu dengan keluarga. Saya suka dengan Herb Kelleher (Southwest Airline) dan dan Anita Roddick (the Body Shop). Mereka selalu mencari orang yang seimbang. Orang yang bekerja serius, namun suka tertawa. Orang yang rindu melakukan prioritas non-job (kerja social) sebaik melaksanakan tugas di kantor".

"Terakhir ini yang paling sulit" Powell menarik nafas agak dalam dan berdiri melihat taman dari balik jendela. Dia mengambil dan menyeruput kopinya yang sejak tadi dibiarkan merana di meja. "Jadi pemimpin, Anda harus siap merasa kesepian. Anda harus siap membuat pilihan-pilihan sulit. Nasib perusahaan tergantung pada pilihan Anda. Mungkin organisasi Anda berbudaya kolaborasi, terbuka, informal tetapi bersiaplah untuk kesepian". Mata Powell menatap jauh ke depan. Seolah ada beban berat yang sedang ditanggung. Masalah Irak. George Walker Bush. Penjara Abu Ghuraib. Ancaman Al Qaeda. Keluarga. Entahlah. Toh saya bertemu cuma secara imajiner…

0 komentar:

Posting Komentar

 
Minima 4 coloum Blogger Template by Beloon-Online.
Simplicity Edited by Ipiet's Template